Dokter Muda Yang Manis Dan Menggemaskan Bagian 2

Dokter Muda Yang Manis Dan Menggemaskan Bagian 2 – Cerita Nakal sebelumnya yang telah diketahui atau kita baca bersama tentu saja yang berjudul Dokter Muda Yang Manis Dan Menggemaskan Bagian 1, dan kali ini situs Cerita69.co akan melanjutkan cerita mesum yang mantap dengan cerita sebelumnya yang pastinya bisa membangkitkan birahi seseorang yang berjudul Dokter Muda Yang Manis Dan Menggemaskan Bagian 2,.. ya uda yuk kita langsung aja mulai aja cerita nya.. hehehe penasaran? yuk let’s go..

Selama 15 menit aku diperlakukan seperti boneka seksnya. Dipompa dan diperlakukan sesuka hatinya. Tentu batinku tersiksa: sudah keperawananku direnggut tiba-tiba, kini tubuhku disakiti seperti tak ada artinya.

Tapi anehnya, hatiku mungkin menangis tapi tubuhku berpendapat sebaliknya. Setiap tamparan yang pantatku terima malah membuat otot vaginaku mengejang. Hal ini membuat sodokan penisnya semakin terasa nikmat. Aku tak percaya vaginaku malah orgasme setelah diperawani dan digenjot dengan kasar. Ketika mulutku mengerang tertahan kasur, vaginaku mencengkeram penisnya lebih kuat dari sebelumnya dan membuat dia ikut mengerang keenakan.

“NNgggghhhhaaaaaahhh! Mantap! Hahahahahah!!!” Dia tertawa. Tampak puas sekali melihat kondisiku yang sekarang. Seorang dokter muda yang setengah jam lalu masih perawan dan innocent, kini bertekuk lutut dengan vagina yang berkedut-kedut meniktmati sisa-sisa orgasme yang masih terasa.

Kemudian dia mencabut penisnya dan naik ke atas kasur. Tubuhku ambruk kelelahan, namun dia malah mengajakku bangun.

“Gantian, sekarang kamu yang goyang ya!” pintanya.

Entah apa yang terjadi. Meski lemas, tapi tubuhku menurut begitu saja ketika disuruh menindih tubuhnya yang terlentang di bawahku. Kini kemaluanku berada persis di atas selangkangannya, namun penisnya belum masuk. Tangannya memegang pinggangku lalu mengajak pantatku bergoyang, membuat belahan vaginaku menggesek batang penisnya yang tertindih di bawah. Meski awalnya dipaksa, lama kelamaan pinggulku bergoyang dengan sendirinya menikmati batang kejantanannya yang masih keras.

Seolah ingin mendapat kenikmatan yang maksimal, tubuhku kini condong ke belakang. Kedua tanganku bertumpu ke di pahanya, dadaku pun membusung bergoyang seirama pinggulku.

Dia tampak gemas dengan kedua bongkah payudaraku. “Kamu cantik sekali sayang…” katanya sambil meremas payudaraku.

“Aaahhhnngg…” Aku tak tahan lagi. Kuangkat pinggulku dan kuarahkan penisnya untuk masuk ke vaginaku.

Blesshh…

Ada setruman kecil yang kurasakan saat penisnya menancap sekali lagi. Sensasi yang memicuku untuk orgasme, meski tak sedahsyat sebelumnya.
Selesai orgasme, kuangkat pinggulku sedikit, lalu kuturunkan lagi. Kupompa penis itu agar terus-menerus menyundul rahimku. Nikmat sekali rasanya. Berbeda dengan posisi doggy style tadi, posisi ini membuatku sangat menikmati sodokan penisnya. Mungkin karena kali ini aku yang memegang kendali dan goyangannya tidak brutal.

Posisi woman on top benar-benar membuatku keenakan. Tubuhku naik-turun semakin kencang hingga akhirnya…
“Hmmmmhhhh….” Kedua tanganku menutup mulut yang menjerit saat tubuhku seperti kejang-kejang beberapa kali lalu ambruk di dadanya. Aku orgasme entah yang ke berapa kalinya.

Tak memberi jeda untuk aku beristirahat, dia memelukku lalu bangun tanpa melepaskan penisnya. Dia ganti posisi, saat ini aku gantian berada di bawah dekapannya. Bibirku dilumat bibirnya dan lidahnya kembali menyapu bagian dalam mulutku. Setelah nafsuku kembali bangkit, dia mulai memompa penisnya dengan kencang.

Pelukannya dilepas dari tubuhku. Dia duduk tegak kemudian menyilangkan kedua tanganku sehingga membuat payudaraku terjepit di tengah-tengah dan jadi membusung. Saat pinggulnya kembali bergoyang, susuku pun terombang-ambing tak karuan dibuatnya.

Aku tak tahan dengan sensasi ini. Kepalaku menoleh ke samping dan berusaha menggigit bantal untuk menahan suaraku agar tidak keluar. Tapi usahaku sia-sia saja, kenikmatan yang kurasakan tetap membuat mulutku mengeluarkan erangan seperti jeritan-jeritan kecil. Suara yang membuat dia semakin beringas memompaku.

“Kamu lagi subur gak?” tiba-tiba dia bertanya di tengah pompaannya.

Tentu aku tahu apa maksudnya. Dia sebentar lagi keluar. Aku tak pernah menghitung diriku sedang berada dalam masa subur atau tidak. Biar aman, aku harus mencegah dia menyemburkan spermanya di dalam rahimku.

“Jang..ngannn.. did…dalemm” aku menjawab sambil mengerang. “Sini.. keluar..rin.. dimm…mulutku. ajjj…ja..”

Dia mendongakkan kepalanya menatap langit-langit hotel sambil terus memompaku. “Aku inget semua hal tentang kamu lho!
“Aku inget nama rumah sakit tempat kamu jadi dokter muda….
“Makanya aku bisa nyamperin ke tempat kamu kerja…
“Aku juga inget waktu kamu ngeluh badmood pas lagi dapet…
“Makanya aku tahu banget harusnya kamu lagi subur sekarang…”

Perkataannya jelas membuatku panik, otot vaginaku jadi menegang.

“Ahhh.. iya sayang.. terus jepit kontol aku yang kuat…
“Kamu nyuruh aku, ngecrot di mulut karena takut aku hamilin kan?”

Mendengar kalimat itu, tidak hanya vaginaku, tapi seluruh tubuhku kini jadi tegang. Hanya otot leherku yang masih bisa digerakkan, sehingga aku menggeleng untuk menolak pikiran jahatnya untuk menghamiliku.

“Gimana rasanya? Diperawanin, terus dihamilin?
“Sama orang yang cuma kamu kenal dari Fesbuk! Hahahaha….”

Aku panik namun tubuhku tak dapat melakukan apapun selain menikmati sodokan penisnya.

“Jangan! Please! Jangan di dalemmmhhhh!!”

Dia tersenyum jahat melihatku tak berdaya melawan nikmat.

“Boleh. Tapi syaratnya ada dua ahahaha….” dia berkata sambil terus memompaku.

“Aku nurut! Please jangan di dalem aku turutin apa mau kamuhh…aahhh!” aku memelas. Kepalaku sudah tidak bisa berpikir dengan jernih. Yang aku tahu hanya satu: jangan sampai dia menyemburkan sperma di dalam rahimku.

“Oke.. hh.. hhh… yang..pertama hh.. hhh…. kamu harus mau jadi pacarku….”

Air mataku menetes. Sudah beberapa kali aku ‘ditembak’ cowok, namun baru kali ini aku dipaksa menerimanya. Di situasi yang sungguh sangat amat tidak romantis pula!

Dia tersenyum saat melihatku mengangguk. Meski terpaksa, namun aku jelas tak punya pilihan selain menerimanya jadi pacarku.

“Kamu mau jadi pacarku?”

“Iyya…hahh.. hahhh..”

“Kamu mau ML sampai pagi sama pacarmu ini?”

Dia merasa di atas angin sekarang. Dia memaksaku melayani nafsu setannya hingga puas. Oh, tidak. Malam ini akan jadi malam yang panjang buatku.

“Mau gak?” dia bertanya sekali lagi.

“Iya…hhhh…” jawabku. “Kammmu..bebass..entot..aku sammppaiihhh..paggii…”

Mendengar jawabanku dia mendekatkan wajahnya ke hadapanku. “Terima kasih sayang…” ucapnya sambil mengecup bibirku. Seharusnya ini jadi ciuman yang romantis, jika vaginaku tidak terus disodok dengan brutal oleh penisnya.

“Sekarang syarat yang kedua…” katanya.

“Appa?” tanyaku sambil terengah-engah. Rasanya aku hampir pingsan.

“Jawab pertanyaanku ya sayang….”

Dia mendekatkan kepalanya ke telinga kiriku. Sodokan penisnya kurasakan melambat namun lebih bertenaga. Kini terasa kedutan-kedutan kecil di liang kewanitaanku yang bukan berasal dari otot vaginaku. Jangan-jangan….?

“Aku mau tanya…” bisiknya di telingaku. “Kamu mau anak cowok apa anak cewek? HNGGHHH!!!”

Saat bertanya, penisnya berhenti memompa dan ditanamkan dalam-dalam hingga mentok. Bibirnya menutup mulutku yang mengerang ketika jutaan sel spermanya menyemprot berkali-kali di dalam vaginaku.

Hatiku hancur, namun vaginaku malah orgasme akibat rasa hangat yang membanjiri rahimku. Lagi-lagi tubuhku mengkhianatiku.

Satu menit berlalu sebelum akhirnya dia mencabut penisnya dari vaginaku yang penuh sperma. Saat dia menarik penis gemuknya dengan perlahan, entah mengapa tak ada lagi kenikmatan yang kurasakan. Hanya perih yang muncul, baik perih di hati maupun perih di vaginaku ini.

“Ouucchhhsss….” aku mendesis nyeri.

Begitu ujung penisnya tercabut, sebagian lendir putih di vaginaku meluber keluar. Mengalir pelan menuju belahan pantatku. Udara di kamar ini mulai terasa dingin dan menekan dadaku yang masih tersengal ngos-ngosan.

Kuangkat tubuh yang remuk ini agar bisa bangkit. Susahnya setengah mati karena semua ototku tampaknya lelah. Kulihat dia di ujung kasur sedang mengelap keringat di wajahnya dengan kemeja putih. Terakhir kali kulihat kemeja itu adalah sejam yang lalu, saat aku masih perawan.

Mendadak sepercik listrik seperti mengalir meyetrum vaginaku. Sisa-sisa orgasme kembali menyerangku. Kali ini aku bisa menahannya, kupaksakan diri untuk pergi ke kamar mandi meski dengan terhuyung-huyung.

Di bawah pancuran aku langsung membuka keran dan membiarkan air dingin menghujani kepalaku. Kucabut gagang shower dan kuarahkan ke selangkangan. Aku langsung mencuci daerah kewanitaanku, menguras benih kental yang kini tak terasa hangat lagi.

Mendadak terdengar suara keran wastafel dibuka. Aku langsung menoleh dan melihat sosoknya sedang membasuh wajahnya dengan air. Dia menatapku dari pantulan cermin lalu enengok ke belakang, ke arahku yang masih telanjang di bawah pancuran.

Saat dia mendekat, aku langsung teringat ucapannya yang ingin menyetubuhiku hingga pagi. Tanpa bicara, tangannya merebut gagang shower dari genggamanku dan mengembalikannya ke tempatnya semula. Setelahnya, dia mendekapku. Aku langsung menangis di dadanya. Derasnya pancuran shower memang berhasil menyembunyikan air mataku. Tapi suara tangisanku mengalahkan berisiknya percikan air shower yang menghantam lantai kamar mandi.

Aku pasrah.
Jika dia mau menikmati tubuhku di bawah shower ini, aku pasrah.
Jika dia mau membanjiri rahimku dengan benihnya lagi, aku pasrah.
Jika dia mau langsung pergi besok pagi, aku pasrah.
Aku pasrah. Karena aku sudah sangat lelah hingga tak berdaya. Aku berharap bisa segera pingsan agar tak perlu lagi merekam kejadian mengerikan ini ke dalam ingatan.

Di tengah tangisku, tiba-tiba tangannya yang dari tadi berada di punggungku kini bergerak turun.

“Sayang….” dia memanggil sambil meremas bongkahan pantatku.

Aku bergidik ngeri.

Ronde kedua?

• TAMAT•

Baca Juga cerita seks lainnya hanya di Cerita69.co UPDATE SETIAP HARI. Baca juga Cerita Nakal lainnya hanya di Cerita69.coKumpulan Cerita Dewasa & Cerita Nakal Terupdate 2017.

One thought on “Dokter Muda Yang Manis Dan Menggemaskan Bagian 2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Baca Aja Sayang Jangan Di Copy :* :*